Selasa, 28 Mei 2013

FAKTOR PENDUKUNG SPRINT



Dalam penguasaan teknik sprint terdapat faktor-faktor yang sangat mendukung demi

tecapainya penguasaan teknik yang baik. Menurut Thomson Peter J.L (1993; 68) ada 5

(lima) kemampuan biomotor dasar yang merupakan unsur-unsur kesegaran atau

komponen-komponen fitnes yaitu kekuatan, dayatahan, kecepatan, kelentukan, dan

koordinasi.

a. Kekuatan.

Adalah kemampuan badan dalam menggunakan daya. Kekuatan dapat dirinci menjadi

tiga tipe atau bentuk, yaitu:

1. kekuatan maksimum, yaitu daya atau tenaga terbesar yang dihasilkan oleh otot yang

berkontraksi. Kekuatan maksimum tidak memerlukan betapa cepat suatu gerakan

dilakukan atau berapa lama gerakan itu dapat diteruskan

2. Kekuatan elastis, yaitu kekuatan yang diperlukan sehingga sebuah otot dapat bergerak

cepat terhadap suatu tahanan. Kombinasi dari kecepatan kontraksi dan kecepatan gerak

kadang-kadang disebut sebagai “power = daya”. Kekuatan ini sangat penting bagi even

eksplosip dalam lari, lompat, dan lempar.

3. Daya tahan kekuatan, yaitu kemampuan otot-otot untuk terus-menerus menggunakan

daya dalam menghadapi meningkatnya kelelahan. Daya tahan kekuatan adalah kombinasi

antara kekuatan dan lamanya gerakan.

b. Dayatahan.

Dayatahan mengacu pada kemampuan melakukan kerja yang ditentukan intensitasnya

dalam waktu tertentu. Faktor utama yang membatasi dan pada waktu yang sama

mengakhiri prestasi adalah kelelahan. Seorang atlet dikatakan memiliki dayatahan apabila

tidak mudah lelah atau dapat terus bergerak dalam keadaan kelelahan. Daya tahan, dari

semua kemampuan biomotor harus dikembangkan lebih dahulu. Tanpa dayatahan adalah

sulit untuk mengadakan pengulangan terhadap tipe atau macam latihan yang lain yang

cukup untuk mengembangkan komponen biomotor lain. Ada dua tipe macam daya tahan,

yaitu; dayatahan aerobik dan dayatahan anaerobik. Dayatahan aerobik yaitu kerja otot

dan gerakan otot yang dilakukan menggunakan oksigen guna melepaskan energi dari

bahan-bahan otot. Dayatahan aerobik harus dikembangkan sebelum dayatahan anaerobik.

Sedangkan dayatahan anaerobik yaitu kerja otot dan gerakan otot dengan menggunakan

energi yang telah tersimpan didalam otot. Dayatahan anaerobik terbagi menjadi dua yaitu

anaerobik laktik dan anaerobik alaktik.

c. kecepatan. Adalah kemampuan untuk barjalan atau bergerak dengan sangat cepat.

Kecepatan berlari sprint yang asli berkenaan dengan kemamapuan alami untuk mencapai

percepatan lari yang sangat tinggi dan untuk menempuh jarak pendek dalam waktu yang

sangat pendek.

d. Kelentukan. Yaitu kemampuan untuk melakukan gerakan persendian melalui

jangkauan gerak yang luas. Kelentukan terbatas atau tertahan adalah suatu sebab umum

terjadinya teknik yang kurang baik dan prestasi rendah. Kelentukan jelek juga

menghalangi kecepatan dan dayatahan karena otot-otot harus bekerja lebih keras untuk

mengatasi tahanan menuju kelangkah yang panjang.

e. Koordinasi. Yaitu kemampuan untuk melakukan gerakan dengan tingkat kesukaran

dengan tepat dan dengan efesien dan penuh ketepatan. Seorang atlet dengan koordinasi

yang baik tidak hanya mampu melakukan skill dengan baik, tetapi juga dengan tepat dan

dapat menyelesaikan suatu tugas latihan.

Selain faktor-faktor fisik yang telah dijelaskan diatas, dalam penguasaan teknik sprint

terdapat pula faktor lain yang tidak kalah penting pengaruhnya, yaitu faktor psikologis.

Seperti dikatakan Thomson Peter J.L. (1993; 134) psikologi ini adalah sama pentingnya

bagi seorang pelatih guna membantu individu-individu (atlet) mengembangkan

bagaimana mereka memikirkan kecakapan mental mereka, tetapi juga penting untuk

mengembangkan ketangkasan fisik mereka. Ini jelas adalah aspek psikologis dalam

melatih namun juga benar bahwa tak ada bagian dari pelatihan/coaching yang tanpa

aspek psikologis. Adapun faktor-faktor psikologis tersebut diantaranya yaitu;

a. Ketangkasan mental.

Ketangkasan mental ini sangat berguna/penting bagi para pelatih dan atlet. Ketangkasan

mental ini bukan hanya suatu sarana untuk menghindari bencana ataupun pemulihan

kembali dari cedera tetapi ketangkasan mental juga memainkan peranan penting dalam

mengatur/mengorganisir praktek dan latihan secara efektif sehingga segala sesuatu

berjalan dengan benar. Kebanyakan atlet dan pelatih mengakui bahwa perkembangan

fisik ssaja tidak menjamin dapat sukses dalam atletik. Seorang atlet harus memiliki

kerangka pemikiran yang benar. Persiapan psikologis sama pentingnya dengan latihan

kondisioning fissik. Menyiapkan keduanya bersama-sama akan menciptakan prestasi

terbaik. Ketangkasan mental ini memerlukan latihan praktek dengan cara yang sama

seperti pada skill fisik/jasmaniah. Dengan skill/ketangkasan fisik, beberapa individu akan

mengambil/memperoleh ketangkasan mental lebih gampang dibanding dengan orang

lain. Dengan praktek, setiap orang dapat meningkatkan ketangkasan mental mereka.

b. Motivasi.

Motivasi merupakan suatu kecendrungan untuk berperilaku secara selektif kesuatu arah

tertentu, dan perilaku tersebut akan bertahan sampai sasaran perilaku tersebut dapat

dicapai. Pada dasarnya motivassi adalah betapa besarnya keinginan seorang individu

untuk meraih/mencapai suatu sasaran. Setiap individu memiliki tujuan/sasaran yang

berbeda-beda dalam keterlibatannya dalam dunia atletik. Tujuan/sasaran itu misalnya;

mencari kegembiraan, memahirkan skill baru, berlomba dan menang, menambah teman,

serta masih banyak lagi tujuan/sasaran lain yang selalu berbeda pada setiap individunya.

Dikatakan Thomson Peter J.L. (1993: 135) tekanan dari luar dari pelatih dan orang tua

adalah tidak mungkin meningkatkan motivasi pada atlet dalam jangka jauh dan mungkin

kenyataannya berkurang. Motivasi sendiri dan pengisiannya adalah yang membuat suatu

sukses yang sebenarnya bagi atlet, dan bukan ambisi yang dipaksakan oleh orang lain.

Pelatih membantu atlet mengerti apa yang ingin atlet raih, tujuan, dan bagaimana cara

meraihnya.

c. Kontrol emosi.

Kontrol emosi adalah suatu kemamapuan seorang atlet dalam mengendalikan perasaan

dalam menghadapi uatu ituasi tertentu. Menurut Thomson Peter J.L. (1993;136)

kegelisaan berarti berapa banyak seorang individu tergetar atau siap dalam menghadapi

suatu situasi tertentu. Rasa gelisa selalu timbul dalam setiap situasi, meskipun bila

tingkatannya rendah kita tidak dapat memperhatikannya. Banyak rasa gelisa ini

ddigunakan secara tidak benar yang berarti hanya sifat-sifat individu yang menunjukkan

tingkat yang sangat tinggi akan kegelisaan. Gejala-gejala kegelisaan dapat terlihat dalam

dua bentuk yaitu: Khawatir dan getaran fisiologis. Rasa khawatir mengacu kepada pikiran

atau kesan tentang apa yang mungkin terjadi dalam suatu event yang akan datang,

sedangkan getaran fisiologis adalah bagian dari persiapan (alami dalam) badan untuk

suatu perlombaan. Contoh dari getaran fisiologis termasuk meningkatnya denyut jantung,

keluar peluh/keringat dan rasa ingin buang hajat (besar/kecil) pergi kekamar kecil.

Penguasaan teknik sprint adalah sangat penting untuk mencapai prestasi maksimal.

Menurut Djoko P. Irianto (2002), dalam perlombaan teknik memiliki peran antara lain:

(1) Sebagai cara efesien dalam mencapai prestasi, (2) Dapat mencegah atu mengurangi

terjadinya cedera, (3) sebagai modal untuk melakukan taktik, (4) meningkatkan

kepercayaan diri. Sukadiyanto (2005) mengatakan, teknik yang benar dari awal selain

akan menghemat tenaga untuk gerak sehingga mampu bekerja lebih lama dan berhasil

baik juga juga merupakan landasan dasar menuju prestasi yang lebih tinggi. Dengan

teknik dasar yang tidak benar akan mempercepat proses stagnasi prestasi, sehingga pada

waktu tertentu prestasi akan stagnasi (mentok), padahal semestinya dapat meraih prestasi

yang lebih tinggi.

Menurut Djoko P. Irianto (2002; 80) penguasaan teknik dipengaruhi oleh beberapa faktor

antara lain;

a. Kualitas fisik yang relevan

b. Kualitas psikologis atau kematangan bertanding

c. Metode latihan yang tepat

d. Kecerdasan atlet memilih teknik yang tepat dalam situasi tertentu.

Menurut Josef Nossek (1982), terdapat tiga tahapan dalam proses belajar teknik:

a. Pengembangan koordinasi kasar. Bentuk-bentuk gerakan kasar dapat dikarakteristikkan

sebagai penguasaan teknik-teknik kasar dan terbatas yang berkenaan dengan kualitas

gerakan-gerakan yang diperlukan, seperti:

1. Pengaruh kekuatan yang tidak memadai, pemborosan energi, kram otot (koordinasi

otot yang rendah) dengan konsekuensi kelelahan yang cepat.

2. Unsur-unsur gerakan tunggal yang tidak digabungkan dengan lancar, karena kurangnya

koordinasi.

3. Gerakan-gerakan belum cukup tepat.

4. kekurangan keharmonisan dan ritme gerakan-gerakan yang diamati.

b. Pengembangan koordinasi halus. Bentuk gerakan-gerakan halus dicapai melalui

pengulangn-pengulangan lebih lanjut yang mengambangkan kualitas gerakan-gerakan.

Tempo tersebut meningkat sampai pada kecepatan yang kompetitif. Bagian-bagian

gerakan tungggal untuk teknik-teknik yang lebih kompleks dikembangkan secara terpisah

dan dikombinasikan bersama. Aspek-aspek dalam tahap ini bercirikan:

1. Teknik-teknik dilakukan hampir tanpa kesalahan.

2. gerakan-gerakan distabilkan.

3. Gerakan-gerakan lebih berguna dan hemat, tidak ada pemborosan energi.

4. Beberapa gerakan-gerakan tidak benar yang terjadi dalam tahap pertama tidak tampak

lagi.

5. Urutan gerakan-gerakan menjadi lancar dan harmonis.

6. Gerakan-gerakan tersebut tepat.

Namun demikian dalam tahap belajar ini, teknik-teknik tersebut tidak dilakukan secara

otomatis. Atlet tersebut masih harus mengkonsentrasikan pada bagian-bagian yang

berbeda dari gerakan-gerakan dan oleh karena itu penerapan taktis hanya dimungkinkan

sebagian.

c. Tahap stabilisasi dan otomatisasi.

Tahap stabilisasi; pertama-tama hendaknya membawa atlet kedalam posisi dimana ia

dapat menerapakan teknik-teknik dalam situasi kompetitif yang sulit. Atlet tersebut

mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi-kondisi yang sulit dan berubah-ubah dari

suatu kompetisi. Penguasaan teknik yang sempurna dalam kondisi ini hanya dicapai

melalui praktek dalam banyak kompetisi. Karena tingkat otomatisasi yang tinggi, para

atlet dapat memberikan perhatian pada tugas-tugas taktis dalam kompetisi. Pengaruh dari

kapasitas kondisioning adalah jelas tanpa rintangan dalam penampilan.



Prestasi merupakan akumulasi dari kualitas fisik, teknik, taktik dan kematangan mental

atau psikis, sehingga aspek tersebut perlu dipersiapkan secara menyeluruh, sebab satu

aspek dengan aspek lain akan menentukan aspek lain. Fisik merupakan pondasi bagi

olahragawan, sebab teknik, taktik dan mental akan dapat dikembangkan dengan baik jika

olahragawan memiliki kualitas fisik yang baik. Jadi teknik dapat dikembangkan dan

dikuasai jika atlet memiliki kualitas fisik yang baik