Rabu, 22 Mei 2013

TEKNIK SPRINT 100 M

TEKNIK LARI SPRINT 100m


Atletik adalah aktifitas jasmani yang kompetitif atau dapat diadu berdasarkan gerak dasar

manusia, yaitu seperti berjalan, berlari, melempar, dan melompat. Atletik seperti yang

kita ketahui sekarang, dimulai sejak diadakan olympiade modern yang pertama kali

diselenggarakan di kota Athena pada tahun 1896 dan sampai terbentuknya badan dunia

federasi athletik amatir internasional tahun 1912. Atletik pertama kali diperkenalkan di

Indonesia dengan sebutan Netherlands Indische Athletick Unie (NIBU) tanggal 12 Juli

1917 dan dalam perkembangannya terbentuk suatu organisasi yang bergerak dibidang

atletik dengan nama Persatuan

Sprint atau lari cepat merupakan salah satu nomor lomba dalam cabang olahraga atletik.

Sprint atau lari cepat merupakan semua perlombaan lari dimana peserta berlari dengan

kecepatan maksimal sepanjang jarak yang ditempuh. Sampai dengan jarak 400 meter

masih digolongkan dalam lari cepat atau print. Menurut Arma abdoellah (1981; 50) pada

dasarnya gerakan lari itu untuk semua jenis sama. Namun dengan demikian dengan

adanya perbedaan jarak tempuh, maka sekalipun sangat kecil terdapat pula beberapa

perbedaan dalam pelaksanaannya. Sedangkan yang dimaksud dengan perbedaan atau

pembagian jarak dalam nomor lari adalah lari jarak pendek (100 – 400 meter), lari

menengah (800 – 1500 meter), lari jauh (5000 meter atau lebih). Lari jarak pendek atau

sprint adalah semua jenis lari yang sejak start ampai finish dilakukan dengan kecepatan

maksimal. Beberapa faktor yang mutlak menentukan baik buruknya dalam sprint ada tiga

hal yaitu start, gerakan sprint, dan finish.

Penguasaan teknik merupakan kemampuan untuk memahami atau mengetahui suatu

rangkaian spesifik gerakan atau bagian pergerakan olahraga dalam memecahkan tugas

olahraga dan dapat menggunakan pengetahuan yang dimiliki tersebut. Penguasaan teknik

sprint diartikan sebagai kemampuan atlet dalam mengetahui atau memahami teknik lari

sprint dan dapat menggunakan teknik lari sprint dengan baik.

Penguasaan teknik dipengaruhi beberapa dua faktor, yaitu:

a. Pengetahuan

Menurut Jujun S. Suriasumantri (1993: 103) pengetahuan pada hakekatnya adalah

merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek termasuk kedalamnya

ilmu. Sedangkan menurut Sidi Gazalba dalam Amsal Bakhtiar (2006; 85) pengetahuan

adalah apa yang kita ketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah

hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik

atau isi pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan proses dari usaha manusia

untuk tahu.

b. Aplikasi atau penerapan

Aplikasi teknik merupakan penerapan penggunaan teknik lari sprint yang dilakukan oleh

atlet didalam perlombaan. Didalam suatu perlombaan atlet akan berusaha untuk

mengeluarkan semua kemampuan yang dimiliki untuk mencapai penampilan terbaik dan

prestasi maksimal. Setiap atlet memiliki kemampuan yang berbeda dan cara yang berbeda

pula dalam menerapkan atau mengaplikasikan teknik sprint dalam perlombaan. Seperti

yang dikatakan IAAF (1993; 115) kemampuan untuk melakukan suatu teknik yang

sempurna adalah tidak sama sebagai seorang pelaku yang penuh ketangkasan. Atlet yang

tangkas memiliki teknik yang baik dan konsisten dan juga tahu kapan dan bagaimana

menggunakan teknik guna menghasilkan prestasi yang baik.

2. Sprint

a. Pengertian sprint

Lari cepat atau sprint adalah semua perlombaan lari dimana peserta berlari dengan

kecepatan maksimal sepanjang jarak yang harus ditempuh, sampai dengan jarak 400

meter masih dapat digolongkan dalam lari cepat. Menurut Muhajir (2004) sprint atau lari

cepat yaitu, perlombaan lari dimana peserta berlari dengan kecepatan penuh yang

menempuh jarak 100 m, 200 m, dan 400 m.

Nomor lomba atau event lari sprint menjangkau jarak dari 50 meter, yang bagi atlet

senior hanya dilombakan indoor saja, sampai dengan dan termasuk jarak 400 meter.

Kepentingan relatif dari tuntutan yang diletakkan pada seorang sprinter adalah beragam

sesuai dengan event-nya, namun kebutuhan dari semua lari-sprint yang paling nyata

adalah ‘kecepatan’. Kecepatan dalam lari sprint adalah hasil dari kontraksi yang kuat dan

cepat dari otot-otot yang dirubah menjadi gerakan yang halus, lancar-efisien dibutuhkan

bagi berlari dengan kecepatan tinggi.

Kelangsungan gerak lari cepat atau sprint dapat dibagi menjadi tiga, yaitu; (A) Start, (B)

gerakan lari cepat, (C) Gerakan finish.

b. Pengertian teknik

Teknik merupakan blok-blok bengunan dasar dari tingginya prestasi. Teknik adalah cara

yang paling efesien dan sederhana dalam memecahkan kewajiban fisik atau masalah yang

dihadapi dan dibenarkan dalam lingkup peraturan (lomba) olahraga (Thomson Peter J.L,

1993; 115). Menurut suharno (1983) yang dikutip Djoko Pekik Irianto (2002; 80) teknik

adalah suatu proses gerakan dan pembuktian dalam praktek dengan sebaik mungkinuntuk menyelesaikan tugas yang perlu dalam cabang olahraga. Teknik merupakan cara

paling efesien dan sederhana untuk memecahkan kewajiban fisik atau masalah yang

dihadapi dalam pertandingan yang dibenarkan oleh peraturan.

c. Teknik lari sprint

Teknik adalah sangat kritis terhadap prestasi selama suatu lomba lari sprint. Melalui

tahapan lomba tuntutan teknik sprint beragam seperti halnya aktivitas otot-otot, pola

waktu mereka dan aktivitas metabolik para atlet dari tahap reaksi sampai tahap transisi

tujuan utamanya adalah untuk mengembangkan kecepatan dari suatu sikap diam di

tempat.

Tujuan utama lari sprint adalah untuk memaksimalkan kecepatan horizontal, yang

dihasilkan dari dorongan badan kedepan. Kecepatan lari ditentukan oleh panjang-langkah

dan frekuensi-langkah. untuk bisa berlari cepat seorang atlet harus meningkatkan satu

atau kedua-duanya. Tujuan teknik-sprint selama perlombaan adalah untuk mengerahkan

jumlah optimum daya kepada tanah didalam waktu yang pendek. Teknik yang baik

ditandai oleh mengecilnya daya pengereman, lengan lengan efektif, gerakan kaki dan

badan dan suatu koordinasi tingkat tinggi dari gerakan tubuh keseluruhan (IAAF,

1993;22).

Teknik lari sprint lari 100m dapat dirinci menjadi tahap-tahap sebagai berikut:

1. Tahap reaksi dan dorongan

2. Tahap lari akelerasi

3. Tahap transisi/perubahan

4. Tahap kecepatan maksimum

5. Tahap pemeliharaan kecepatan

6. Finish

Lomba lari sprint yang lain mengikuti pola dasar yang sama, tetapi panjang dan

pentingnya tahapan relatif bervariasi. Dalam aspek biomekanika kecepatan lari

ditentukan oleh panjang langkah dan frekuensi langkah (jumlah langkah dalam per satuan

waktu). Untuk bisa berlari lebih cepat seorang atlet harus meningkatkan satu atau kedua-

duanya. Hubungan optimal antara panjang langkah dan frekuensi langkah bervariasi bagi

tahap-tahap lomba yang berbeda-beda. Dalam lari sprint terdapat beberapa tahapan yaitu:

1. Start

Menurut IAAF (2001;6) suatu start yang baik ditandai dengan sifat-sifat berikut;

a. Konentrasi penuh dan menghapus semua gangguan dari luar saat dalam posisi aba-aba

“bersediaaaaa”

b. Meng-adopsi sikap yang sesuai pada posisi saat aba-aba “siaaap”

c. Suatu dorongan explosif oleh kedua kaki terhadap start-blok, dalam sudut start yang

maksimal

Teknik yang digunakan untuk start harus menjamin bahwa kemungkinan power yang

terbesar dapat dibangkitkan oleh atlet sedekat mungkin dengan sudut-start optimum 450.

setelah kemungkinan reaksi yang tercepat harus disusul dengan suatu gerak (lari)

percepatan yang kencang dari titik-pusat gravitasi dan langkah-langkah pertama harus

menjurus kemungkinan maksimum.

Ada tiga variasi dalam start-jongkok yang ditentukan oleh penempatan start-blok relatif

terhadap garis start: a. Start-pendek (bunch-start), b. Start-medium (medium-start), c.

Start-panjang (elongated-start). Start medium adalah umumnya yang disarankan, ejak ini

memberi peluang kepada para atlet untuk menerapkan daya dalam waktu yang lebih lama

daripada start-panjang (menghasilkan kecepatan lebih tinggi), tetapi tidak menuntut

banyak kekuatan seperti pada start-pendek (bunch-start). Suatu pengkajian terhadap

teknik start-jongkok karenanya dapat dimulai dengan start medium. Ada tiga bagian

dalam gerakan start, yaitu:

a. Posisi “bersediaaa”

Pada posisi ini sprinter mengambil sikap awal atau posisi “bersediaaa”, kaki yang paling

cepat/tangkas ditempatkan pada permukaan sisi miring blok yang paling depan. Tangan

diletakkan dibelakang garis start dan menopang badan (lihat gambar ). Kaki belakang

ditempatkan

pada permukaan blok belakang, mata memandang tanah kedepan, leher rileks, kepala

segaris dengan tubuh (lihat gambar).

Menurut IAAF (2001;8) posisi “siaaap” ini adalah kepentingan dasar bahwa seorang atlet

menerima suatu posstur dalam posisi start “siaaap” yang menjamin suatu sudut optimum

dari tiap kaki untuk mendorongnya, suatu posisi yang sesuai dari pusat gravitasi ketika

kaki diluruskan dan pegangan awal otot-otot diperlukan bagi suatu kontraksi explosif dari

otot-otot kaki.

Tanda-tanda utama suatu posisi “siaaap” yang optimum daya adalah;

1. Berat badan dibagikan seimbang

2. Poros pinggul lebih tinggi daripada poros bahu

3. Titik pusat gravitasi kedepan

4. Sudut lutut 900 pada kaki depa,

5. Sudut lutut 1200 pada kaki belakang

6. kaki diluruskan menekan start blok

c. Posisi (aba-aba) “ya”

Daya dorong tungkai dan kaki dalam start dapat dianalisa dengan menggunakan papan-

pengalas daya dibangu pada start blok. Bila kaki-kaki menekan pada papan itu pada pada

saat start, impuls dapat disalurkan ke dan ditampilkan pada suatu dinamo-meter.

Kekuatan impuls arah dan lamanya, juga timing dari dorongan dari tiap kaki dapat

dicatat.

Ciri kunci yang untuk diperhatikan adalah:

1. kaki belakang bergerak lebih dahulu. Pola daya kekuatan menunjukkan bahwa daya

kekuatan yang puncaknya sangat tinggi dikenakan mengawali gerak akselerasi dari titik-

pusat gravitasi atlet dengan cepat menurun.

2. Penerapan daya kekuatan dari kaki depan dimulai sedikit lambat yang memungkinkan

gerak akselerasi titik-pusat gravitasi untuk berlanjut setelah dorongan kaki belakang

menghilang, dan berlangsung dalam waktu yang lebih lama. Kenyataannya, daya

kekuatan daya kekuatan digunakan oleh kaki-depan kira-kira dua kali lipat dari daya

kaki-belakang.

Tahap pemulihan (recovery). Otot-otot flexor lutut mengangkat tumit kedepan pantat

dengan pembengkokan (flexio) kedepan serentak dari otot-otot paha. Tungkai bawah

tetap ditekuk ketat terhadap paha mengurai momen inertia. Lutut yang memimpin

dipersiapkan untuk suatu ayunan ke depan yang relax dari tungkai bawah dalam langkah

mencakar berikutnya. Lutut dorong yang aktif mennyangga pengungkit pendek dari kaki

ayun. Kecepatan sudut optimal pada paha berayun kedepan menolong menjamin

frekuensi langkah lari yang tinggi.

Tujuan dan fungsi dari tahap ini adalah agar kaki dorong putus kontak dengan tanah.

Kaki rilex, mengayun aktif menuju pembuatan langkah diatas lutut kaki sangga dan

sebagai tahap lanjutan dan persiapan angkatan lutut. Adapun ciri-ciri atu tangda-tanda

tahap ini adalah:

1. Ayunan rilex kaki belakang yang tidak disangga sampai tumit mendekati panta. Bandul

pendek ini sebagai hasil kecepatan sudut yang tinggi memungkinkan membuat langkah

yang cepat.

2. Angkatan tumit karena dorongan aktif lutut, dan harus menampilkan relaksasi total dari

semua otot yang terlibat.

3. Perjalanan horizontal pinggul dipertahankan sebagai hasil dari gerakan yang dijelaskan

b. Tahap ayunan depan.

Tahap angkat lutut. Tahap ini menyumbangkan panjang langkah dan dorongan pinggang.

Persiapan efektif dengan kontak tanah. Sudut lutut yang diangkat kira-kira 150 dibawah

horizontal. Gerakan kebelakang dari tungkai bawah sampai sutau gerakan mencakar aktif

dari kaki diatas dari dasar persendian jari-jari kaki dalm posisi supinasi dari kaki.

Kecepatan kaki dicapai dengan bergerak kebawah/kebelakang sebagai suatu indikator

penanaman aktif dari hasil dalam suatu kenaikan yang cepat dari komponen daya

vertikal.

Tujuan dan fungsi tahap ini adalah agar lutut diangkat, bertanggung jawab terhadap

panjang langkah yang efektif , dalam kaitan dengan ayunan lengan yang intensif.

Teruskan dan jamin jalur perjalanan pinggang yang horizontal. Persiapan untuk mendarat

engan suatu gerakan mencakar dan sedikit mungkin hambatan dalam tahap angga depan.

Tahap ini memiliki sifat-sifat atau tanda-tanda, yaitu:

1. Angkatan paha/lutut horizontal hampir horizontal, melangkahkan kaki sebaliknya

sebagai prasyarat paling penting dari suatu langkah-panjang cepat dan optimal.

2. Gerakan angkat lutut dibantu oleh penggunaan lengan berlawanan diametris yang

intenssif.

3. Siku diangkat keatas dan kebelakang.

4. Dlam lanjutan dengan ayunan kedepan yang rilex dari tungkai bawah karena pelurusan

paha secara aktif, dengan niat memulai gerak mencakar dari kaki aktif.

c. Tahap sangga/topang depan

Tahap amortisasi. Pemulihan dari tekanan pendaratan adalah ditahan. Ada alat peng-

aktifan awal otot-otot yang tersedia didalam yang diawali dalam tahap sebelumnya. Ide-

nya guna menghindari adanya efek pengereman/hambatan yang terlalu besar dengan

membuat lama waktu tahap sangga/topang sependek mungkin.

Tahap ini mempunyai tujuan dan fungsi sebagai tahap amortisasi tahap kerja utama.

Mengontrol tekanan kaki pendarat oleh otot-otot paha depan yang diaktifkan sebelumnya

dan otot-otot kaki bertujuan untuk membuat ssuatu gerak explossif memperpanjang

langkah sebelumnya. Tahapan ini memiliki sifa atau tanda sebagai berikut:

1. Gerakan mencakar aktif dari sisi luar telapak kaki dengan jari-jari keatas.

2. Jangkauan kedepan aktif harus tidak menambah panjang-langkah secara tak wajar,

namun mengizinkan pinggang (pusat gravitassi tubuh) berjalan cepat diatas titik sanggah

kaki.

3. Hindari suatu daya penghambat yang berlebih-lebihan.

4. Waktu kontakl dalam angga depan harus esingkat mungkin.

d. Tahap sangga/topang belakang

Besarnya impuls dan dorongan horizontal diberi tanda. Lama penyanggaan itu adalah

singkat saja. Sudut dorongan sedekat mungkin dengan horizontal. Ada suatu perluasan

elastik dari dari sendi kaki, lutut dan pinggul. Menunjang gerakan ayunan linier lengan

oleh suatu angkatan efektif dari siku dalam ayunan kebelakang, dan ayunan kaki meng-

intensifkan dorongan dan menentukan betapa efektifnya titik pusat massa tubuh dikenai

oleh gerakan garis melintang dari perluasan dorongan. Togok badan menghadap kedepan.

Keriteria untuk tahap-tahap penyanggaan ini adalah:

1. waktu singkat dari periode sangga/topang keseluruhan

2. suatu impuls akselerasi yang signifikan pada tahap topang belakang

3. suatu waktu optimum dari impuls percepatan pada tahap topang/sangga belakang

4. hampir tidak ada daya pengereman/hambatan pada tahap sanggahan.

Tujuan dan fungsi dari tahap ini adalah sebagai tahap akselerasi ulang, penyangga untuk

waktu singkat, dan sebagai persiapan dan pengembangan suatu dorongan horizontal yang

cepat. Tahap ini memiliki sifat-sifat atau tanda, yaitu:

1. Menempatkan kaki dengan aktif, disusl dengan pelurusan sendi-sendi: kaki, lutut,

pinggul.

2. Menggunakan otot-otot plantar-flexor dan emua otot-otot pelurus kaki korset.

3. Badan lurus segaris dan condong kedepan kurang lebih 850 dengan lintasan.

4. Penggunaan yang aktif lengan yang ditekuk kurang lebih 900 ke arah berlawanan dari

arah lomba.

5. Siku memimpin gerakan lengan

6. Otot-otot kepala, leher, bahu dan badan dalam keadaan rilex.

7. Tahap permulaan gerak kaki ayun lutut diangkat.

3. Penguasaan teknik sprint